Jumat, 13 Desember 2013

Tulisan pertama "Pelangi Mimpi"

Aku Sabio Putra Anugrah seorang mahasiswa UI yang sedang mengadakan observasi tentang lingkungan sekitar. Aku mengambil lokasi daerah sebut saja nama daerah itu Desa Kimandano, Ujung pulau. Ini lah yang dibilang serangkuh dayung dua tiga pulang terlampaui, sehubungan untuk tugas di universitas aku juga ingin sekali pulang ke kampung halaman yang telah lama aku tinggalkan sejak kecil. Kami sekeluarga pindah karena ayah pindah tugas ke kota. Pagi itu, Alarm kecilku berbunyi “Kriiiiiinggg, kriiingg, kriiiinggg………”jarum jam telah menujukkan pukul 7 pagi, waktunya aku untuk bergegas bersiap untuk pergi mengunjungi desa Kimandano . Dengan semangat pagi, dengan senyum lebar yang tersangkut di wajahku aku pergi meninggalkan rumah menuju loket mobil travel di Kota. Waktunya keberangkatan ku telah tiba,di dalam mobil terus saja aku membayangkan bagaimana bentuk dari desa itu sekarang ini semenjak aku meninggalkan desa itu beberapa tahun yang lalu. Sampai aku terlelap menganyam bulu mataku. Berselang beberapa jam,…….. “Nak bangun kita sudah sampai,ayo cepat turun”. Ku buka mataku dengan terkejut dan berucap “Terima kasih pak,telah membangunkan saya”.Balasan senyum yang ku dapat.
Untuk sampai ke desa Kimandano harus dengan perahu, memang betul-betul belum berkembang transportasi yang berada di desa ini, “Permisi bapak apakah saya bisa menumpang bapak sampai desa Kimandano pak ?(sambil berharap)”.”Yee naeklah nak bapak juge kebetulan nak lewat sane,, payo lah naek lagi”. “terima kasih banyak pak, kira-kira berapa lama waktu yang di tempuh pak untuk sampai ke desa Kimandano pak ?” “Kalau dikire-kire sekitar  duo puloh menitan lah nak”(warga desa Kimandano kebanyakan orang Melayu, Bugis dan Jawa).
Dayungan perahu pun terhenti, di sebuah  pesinggahan di tepi sungai……
Saat pertama kali menginjakkan kaki “Tapp…”, jantung langsung tersentak bagaikan terjadi ledakan besar dalam jantung perasaan haru bercampur sedih menyelimuti kalbu yang merasakan hilangnya rindu yang mendalam akan desa tercinta ini di bayar dengan sesuatu yang begitu mengiris, betapa terkejutnya diriku ketika melihat banyak yang telah berubah dari desa ini, sejak kedatanganku entah berapa tahun yang lalu aku lupakan hal itu. Dulu saat usiaku  masih kecil, semuanya hidup dengan seimbang pemandangan terlihat begitu asri, di perjalanan masuk desa  disambut dengan lambaian tangan pohon-pohon rindang di sisi kanan dan ketenangan air yang jernih di kiri jalan yang terlihat begitu tenang, sekerumunan kabut yang berjalan di atas air dengan anggun, percik air yang begitu merdu. Tapi kini, keindahan yang telah aku bayangkan sebelumnya berubah menjadi  pemandangan yang begitu gersang tak satu pun pohon rindang yang tumbuh hanya beberapa rumput perdu, sungai keruh dengan banyak sampah yang saling berkejaran di air . Di dalam hati aku bertanya-tanya “kemana hilangnya desaku itu, aku masih belum bisa menerima jika desa ku telah berubah menjadi pemukiman yang gersang ,aku tak terima”. Rasa bertanya-tanya masih mengiri langkah ku menuju pemukiman warga desa.
“Assalamualaikum, mbah ..”. “Waalaikumsalam (dengan suara yang gaung)”. “permisi mbah, kulo Bio purun nyuwun pamit jeng nginep teng niki mbah? (dengan nada bicara yang masih sedikit kaku)”. “Halah nak, ndag usah dipaksakain kalu ora iso ngomong jowo, mbah jugo iso ngerti bahasa endonesia namae mbah, mbah Gito’(dengan logat jawa campuran)”. “Owh, baik lah kalo mbah ngerti bahasa Indonesia, mbah boleh tidak saya permisi untuk nginap disini ? ”. “Boleh-boleh aja nak, tapi ya begini lah gubuk bapak udah reyot”. “Udah diizinin tinggal di sini aja saya udah terima kasih banyak pak.” Aku dan si mbah pun bercerita sampe matahari beranjak pergi dari tempatnya.
Esok paginya…..
Ketika aku sedang menulis kembali ringkasan cerita tugas ku itu. Tiba-tiba keheningan pecah ….
“APA MAKSUD KALIAN ?? MENGAPA KALIAN MENYANDRA TEMAN KAMI LAGI ??? MENGAPA ?? DASAR PENGECUT !! KALO BERANI AYO KITA PERANG KEMBALI !!! JANGAN BERANINYA SEMBUNYI-SEMBUNYI”. Sedangkan warga Wegan Olak yang sendirian tersebut hanya terdiam ketakutan karena takut dikeroyok masa, dia hanya dapat mendengarkan dan berdiri di perbatasan desa. Warga antardesa tidak diperbolehkan melewati sungai sebagai perbatasan desa, jika ada yang melewati perbatasan tersebut berarti yang lewat tersebut bebas untuk diamuk masa desa satunya tanpa ada kompromi lagi, ini berkembang sejak kedua desa mulai bermusuhan beberapa tahun silam. Aku dan mbah yang tadi nya di dapur pun bergegas keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar, ternyata sedang ada perkelahian antar desa Kimandano dengan desa tetangga yaitu desa Wegan Olak. Keributan terus berlanjut sampai mbah Morjo si petuah di desa datang  melerai keduanya dan akhirnya perkelahian kedua desa itu pun selesai dengan akhir damai itu di sebabkan mbah Morjo. Mbah Morjo ialah kakak kandung dari mbah Gito’. Aku pun penasaran dengan mbah itu “mbah Gito’, mbah yang itu namanya siapa ?”. “itu kakak kandung ne mbah, jenengenya mbah Morjo. Dia itu salah satu yang dituakan di desa iki.”
“Trus apa yang terjadi di luar tadi itu mbah, yang dia bilang ada yang disandra itu ? dan perang kembali, emangnya sebelumnya udah pernah ada perang ya mbah ?,aduh jadi pusing. Maaf ya mbah Bio banyak tanya habisnya penasaran sih”. “Dasar anak-anak memang penuh dengan rasa penasaran yang tinggi tenan oy, ceritanya tu . (mbah pun menceritakan semua yang telah terjadi) Dulu desa ini kan mempunyai keindahan alam yang begitu elok jika dipandang, kamu tau sendirikan bagaimana keindahan alam di sini. Suatu ketika datang musibah yang begitu tragis di desa ini, desa ini di serang oleh hama tanaman sehingga tanaman yang tumbuh di desa ini podo mate’ kabeh begitu pula dengan pencemaran air neng kene, air ne podo keruh akibat dari sampah-sampah yang dibuang begitu saja di air tanpa dosa dan tanah di desa ini yang dulunya subur kaya akan unsur hara e kini berubah menjadi gersang dapat diibarat e batu yang tak memiliki unsur hara e setitik pun. Dari sini lah permusuhan desa ini dan desa sebelah dimulai karena disaat desa ini mengalami kehancuran, ehh taunya desa sebelah yang tidak memiliki apapun malah berkembang pesat tiba-tiba karena memiliki kelebihan yang awalnya dimiliki oleh desa Kimandano berpindah tangan semua ke desa Wegan Olak. Betapa kecewanya semua warga saat desanya hancur lebur tak ada kelebihan satu pun. Setelah itu para pemuda desa  Wegan mulai menyombongkan diri dan selalu saja memperolok warga desa Kimandano, siapa saja yang diperolok pasti akan marah juga jika berlebihan ,betul tidak ?”. “setuju pak, saya juga pasti seperti itu pak”. “Dan pada malam hari berikutnya pemuda sini merencanakan untuk menyerang desa Wegan untuk menghancurkan segala sesuatu yang dapat membuat warga desa Wegan menyombongkan diri karena pemuda desa sini sangat menjunjung tinggi kejujuran jadi pemuda sini tidak menyukai orang-orang yang sombong. Paginya serangan pun dilakukan kemudian pemuda desa dengan membawa beberapa alat sederhana untuk menyerang yang banyak ditemukan di desa, para pemuda kembali dengan membawa beberapa sandraan dari desa sebelah, karena semakin banyak warga desa Wegan yang mengolok, maka semakin banyak pula yang disandra. Karena pemuda Wegan ingin mengambil kembali warga desanya, pemuda Wegan pun menyerang desa Kimandano, saling serang ini pun terjadi saling bergantian sampai akhirnya datang mbah Morjo ke desa ini, mbah Morjo itu kan sebenarnya berasal dari sini tapi merantau ke pulau Jawa yang datang merene kerno dengar cerita iki. Peperangan pun berakhir batas itu aja. Tapi para pemuda antar desa masih menyimpan dendam sampai sekarang ini ”. “Jadi karena kekayaan alam yang hilang ya mbah ?, wah ini cocok sekali untuk diangkat menjadi judul dari tugas saya ini mbah, mbah bantuin saya ya mbah ”. “Iya anakku”.
Dimulai dari sini aku termotivasi untuk bisa membantu membereskan dan memecahkan masalah ini. Aku sering sekali memikirkan bagaimana bisa kekayaan alam dari suatu desa bisa berpindah dengan begitu saja, sedangkan desa yang ditinggal hancur lebur. Setelah aku teliti dari fisik desa itu semuanya tumbuh dengan seimbang tanpa ada yang janggal. Ini yang membuat aku bertambah penasaran. Benar-benar ini anugerah Tuhan yang maha Esa yang sangat luar biasa yang jarang di temui di daerah lain. Karena dari data yang aku dapat dari warga desa Derep yang desanya berada di sebelah timur desa Kimandano, ternyata desa Derep juga pernah merasakan kehilangan kekayaan alam yang begitu dibanggakan juga. Mereka mempunyai kekayaan alam selama 2th, 2th untuk kegersangan dan kembali seperti semula lagi. Menurutku hal ini kan di rasakan pula dengan desa Kimandano, tetapi aku berani untuk menyimpulkan dengan pasti. Sesampainya di rumah aku langsung bertanya dengan mbah Gito’ ”sudah berapa lama mbah kegersangan ini terjadi ?”. “kegersangan ini terjadi udah sekitar 2th kurang 1th bulan, nanti tepatnya 2th di bulan april esok”. Rasa yakinku pun terus bertambah, begitu pula dengan rasa penasaran ku yang membuat diri ku harus terus bertahan menunggu 1 bulan lagi. Tetapi jika tidak pupuslah sudah harapanku.
Sebulan telah berlalu berarti sudah saatnya desa ini kembali normal. Tepat jam 00.00 WIB “Subhanallah, Allahuakbar,” kejadian yang tak sangka aku dapat melihatnya, sebuah keajaiban bagai di dunia mimpi. Malam itu aku tercengang akan perubahan yang terjadi di desa Kimandano karena semua yang dulunya hilang kini telah kembali lagi seperti semula tetapi tidak seindah biasanya, pohon rindang tumbuh dan air pun bergemercik dan bening. Aku tak tahu mengapa bisa begini. Sebuah keajaiban yang luar biasa. Aku terus saja memandangi keajaiban itu sampai bulu mataku teranyam dengan sendirinya di bawah pohon yang baru tumbuh malam itu.
Paginya, terdengar suara sorai-sorai di sekelilingku. Ternyata para warga desa Kimandano yang sedang bergembira berkumpul bersama merayakan syukuran atas kembalinya kekayaan alam mereka. Sedangkan warga desa Wegan Olak kembali bersedih karena kekayaan alam yang mereka miliki telah lenyap seperti desa Kimandano dulunya. Aku pun hanya bisa berbicara sedikit kepada mereka “Kalian harus bersabar, karena hama dan semua kerusakan ini akan berakhir 2th yang akan datang. Jadi kalian semua harus bersabar karena ini mungkin cobaan yang Tuhan berikan kepada setiap desa secara bergiliran”. Warga desa Wegan Olak pun mengakui kesalahan mereka yang telah menyombongkan diri atas kekayaan alam yang dulunya mereka miliki tapi kini tidak mereka miliki lagi. Mereka pun sadar bahwa semua yang mereka miliki itu bukan sepenuhnya milik mereka tetapi milik yang Maha Kuasa, yang sewaktu-waktu dapat diambil. Akhirnya kedua desa ini pun akrab kembali tanpa ada rasa dendam lagi.
Siangnya aku pamit dengan semua warga desa, terutama mbah Gito’ “mbah Bio pamit mbah, maafin Bio ya mbah kalau Bio ada salah dengan mbah”. “Iya nak, ra opo, sering maen ke sini neh yo”. Kami pun berpelukan melepas kerinduan yang akan aku dan mbah rasakan. Saat mohon pamit dengan mbah Morjo “Nak, kamu beruntung bisa melihat keajaiban itu di sini. Mbah juga dulu itu seperti kamu, tetapi karena mbah belum mengerti akan ilmu pengetahuan jadi mbah hanya memandang keajaiban itu sebelah mata saja, tapi sebenarnya mbah masih penasaran dengan itu semua mengapa bisa terjadi”.
Semenjak  itu setiap 2th sekali desa Kimandano, desa Wegan Olak dan beberapa desa di daerah itu selalu ramai dikunjungi warga dari luar daerah maupun dari daerah itu sendiri karena mereka penasaran akan apa yang pernah saya lihat 2th silam.
Skripsi pun selesai, aku  membahas tentang kejadian alam yang begitu aneh untuk dipikirkan dengan rasional. Aku pun lulus universitas dengan mendapatkan nilai yang sangat memuaskan seperti yang aku harapkan.
Saat dalam perjalanan pulang. Tiba-tiba saat  menyebrang di zebra putih. Klakson mobil berbunyi sangat kencang “Tetttt…tettt…tettt…..”
Aku tertawa sendiri karena ternyata itu adalah suara alarmku yang sudah aku setel tadi malam tepat pukul 07.00 WIB . Dan semua kejadian yang telah aku alami itu semuanya hanyalah sebuah bunga tidur, tetapi aku berharap penelitian kali ini sama seperti mimpiku yang aku alami tadi malam, untuk dapat melihat keajaiban yang sangat langka di temukan.
Sekarang waktunya aku bergegas menuju desa yang akan menjadi lokasi penelitianku. Dan semoga saja itu semua menjadi kenyataan.