Aku Sabio Putra Anugrah seorang mahasiswa UI yang
sedang mengadakan observasi tentang lingkungan sekitar. Aku mengambil lokasi
daerah sebut saja nama daerah itu Desa Kimandano, Ujung pulau. Ini lah yang
dibilang serangkuh dayung dua tiga pulang terlampaui, sehubungan untuk tugas di
universitas aku juga ingin sekali pulang ke kampung halaman yang telah lama aku
tinggalkan sejak kecil. Kami sekeluarga pindah karena ayah pindah tugas ke
kota. Pagi itu, Alarm kecilku
berbunyi “Kriiiiiinggg, kriiingg, kriiiinggg………”jarum jam telah menujukkan
pukul 7 pagi, waktunya aku untuk bergegas bersiap untuk pergi mengunjungi desa
Kimandano . Dengan semangat pagi, dengan senyum lebar yang tersangkut di
wajahku aku pergi meninggalkan rumah menuju loket mobil travel di Kota.
Waktunya keberangkatan ku telah tiba,di dalam mobil terus saja aku membayangkan
bagaimana bentuk dari desa itu sekarang ini semenjak aku meninggalkan desa itu
beberapa tahun yang lalu. Sampai aku terlelap menganyam bulu mataku. Berselang
beberapa jam,…….. “Nak bangun kita sudah sampai,ayo cepat turun”. Ku buka
mataku dengan terkejut dan berucap “Terima kasih pak,telah membangunkan
saya”.Balasan senyum yang ku dapat.
Untuk sampai ke desa
Kimandano harus dengan perahu, memang betul-betul belum berkembang transportasi
yang berada di desa ini, “Permisi bapak apakah saya bisa menumpang bapak sampai
desa Kimandano pak ?(sambil berharap)”.”Yee naeklah nak bapak juge kebetulan
nak lewat sane,, payo lah naek lagi”. “terima kasih banyak pak, kira-kira berapa
lama waktu yang di tempuh pak untuk sampai ke desa Kimandano pak ?” “Kalau
dikire-kire sekitar duo puloh menitan
lah nak”(warga desa Kimandano kebanyakan orang Melayu, Bugis dan Jawa).
Dayungan perahu pun terhenti,
di sebuah pesinggahan di tepi sungai……
Saat pertama kali
menginjakkan kaki “Tapp…”, jantung langsung tersentak bagaikan terjadi ledakan
besar dalam jantung perasaan haru bercampur sedih menyelimuti kalbu yang
merasakan hilangnya rindu yang mendalam akan desa tercinta ini di bayar dengan
sesuatu yang begitu mengiris, betapa terkejutnya diriku ketika melihat banyak
yang telah berubah dari desa ini, sejak kedatanganku entah berapa tahun yang
lalu aku lupakan hal itu. Dulu saat usiaku
masih kecil, semuanya hidup dengan seimbang pemandangan terlihat begitu
asri, di perjalanan masuk desa disambut
dengan lambaian tangan pohon-pohon rindang di sisi kanan dan ketenangan air yang
jernih di kiri jalan yang terlihat begitu tenang, sekerumunan kabut yang
berjalan di atas air dengan anggun, percik air yang begitu merdu. Tapi kini,
keindahan yang telah aku bayangkan sebelumnya berubah menjadi pemandangan yang begitu gersang tak satu pun
pohon rindang yang tumbuh hanya beberapa rumput perdu, sungai keruh dengan
banyak sampah yang saling berkejaran di air . Di dalam hati aku bertanya-tanya
“kemana hilangnya desaku itu, aku masih belum bisa menerima jika desa ku telah
berubah menjadi pemukiman yang gersang ,aku tak terima”. Rasa bertanya-tanya
masih mengiri langkah ku menuju pemukiman warga desa.
“Assalamualaikum, mbah
..”. “Waalaikumsalam (dengan suara yang gaung)”. “permisi mbah, kulo Bio purun
nyuwun pamit jeng nginep teng niki mbah? (dengan nada bicara yang masih sedikit
kaku)”. “Halah nak, ndag usah dipaksakain kalu ora iso ngomong jowo, mbah jugo
iso ngerti bahasa endonesia namae mbah, mbah Gito’(dengan logat jawa
campuran)”. “Owh, baik lah kalo mbah ngerti bahasa Indonesia, mbah boleh tidak
saya permisi untuk nginap disini ? ”. “Boleh-boleh aja nak, tapi ya begini lah
gubuk bapak udah reyot”. “Udah diizinin tinggal di sini aja saya udah terima
kasih banyak pak.” Aku dan si mbah pun bercerita sampe matahari beranjak pergi
dari tempatnya.
Esok paginya…..
Ketika aku sedang menulis
kembali ringkasan cerita tugas ku itu. Tiba-tiba keheningan pecah ….
“APA MAKSUD KALIAN ??
MENGAPA KALIAN MENYANDRA TEMAN KAMI LAGI ??? MENGAPA ?? DASAR PENGECUT !! KALO
BERANI AYO KITA PERANG KEMBALI !!! JANGAN BERANINYA SEMBUNYI-SEMBUNYI”. Sedangkan
warga Wegan Olak yang sendirian tersebut hanya terdiam ketakutan karena takut
dikeroyok masa, dia hanya dapat mendengarkan dan berdiri di perbatasan desa.
Warga antardesa tidak diperbolehkan melewati sungai sebagai perbatasan desa,
jika ada yang melewati perbatasan tersebut berarti yang lewat tersebut bebas
untuk diamuk masa desa satunya tanpa ada kompromi lagi, ini berkembang sejak kedua
desa mulai bermusuhan beberapa tahun silam. Aku dan mbah yang tadi nya di dapur
pun bergegas keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar, ternyata
sedang ada perkelahian antar desa Kimandano dengan desa tetangga yaitu desa
Wegan Olak. Keributan terus berlanjut sampai mbah Morjo si petuah di desa datang melerai keduanya dan akhirnya perkelahian
kedua desa itu pun selesai dengan akhir damai itu di sebabkan mbah Morjo. Mbah
Morjo ialah kakak kandung dari mbah Gito’. Aku pun penasaran dengan mbah itu
“mbah Gito’, mbah yang itu namanya siapa ?”. “itu kakak kandung ne mbah,
jenengenya mbah Morjo. Dia itu salah satu yang dituakan di desa iki.”
“Trus apa yang terjadi di
luar tadi itu mbah, yang dia bilang ada yang disandra itu ? dan perang kembali,
emangnya sebelumnya udah pernah ada perang ya mbah ?,aduh jadi pusing. Maaf ya
mbah Bio banyak tanya habisnya penasaran sih”. “Dasar anak-anak memang penuh
dengan rasa penasaran yang tinggi tenan oy, ceritanya tu . (mbah pun
menceritakan semua yang telah terjadi) Dulu desa ini kan mempunyai keindahan
alam yang begitu elok jika dipandang, kamu tau sendirikan bagaimana keindahan
alam di sini. Suatu ketika datang musibah yang begitu tragis di desa ini, desa
ini di serang oleh hama tanaman sehingga tanaman yang tumbuh di desa ini podo
mate’ kabeh begitu pula dengan pencemaran air neng kene, air ne podo keruh
akibat dari sampah-sampah yang dibuang begitu saja di air tanpa dosa dan tanah
di desa ini yang dulunya subur kaya akan unsur hara e kini berubah menjadi
gersang dapat diibarat e batu yang tak memiliki unsur hara e setitik pun. Dari
sini lah permusuhan desa ini dan desa sebelah dimulai karena disaat desa ini
mengalami kehancuran, ehh taunya desa sebelah yang tidak memiliki apapun malah
berkembang pesat tiba-tiba karena memiliki kelebihan yang awalnya dimiliki oleh
desa Kimandano berpindah tangan semua ke desa Wegan Olak. Betapa kecewanya semua
warga saat desanya hancur lebur tak ada kelebihan satu pun. Setelah itu para
pemuda desa Wegan mulai menyombongkan
diri dan selalu saja memperolok warga desa Kimandano, siapa saja yang diperolok
pasti akan marah juga jika berlebihan ,betul tidak ?”. “setuju pak, saya juga
pasti seperti itu pak”. “Dan pada malam hari berikutnya pemuda sini
merencanakan untuk menyerang desa Wegan untuk menghancurkan segala sesuatu yang
dapat membuat warga desa Wegan menyombongkan diri karena pemuda desa sini sangat
menjunjung tinggi kejujuran jadi pemuda sini tidak menyukai orang-orang yang
sombong. Paginya serangan pun dilakukan kemudian pemuda desa dengan membawa
beberapa alat sederhana untuk menyerang yang banyak ditemukan di desa, para
pemuda kembali dengan membawa beberapa sandraan dari desa sebelah, karena
semakin banyak warga desa Wegan yang mengolok, maka semakin banyak pula yang
disandra. Karena pemuda Wegan ingin mengambil kembali warga desanya, pemuda
Wegan pun menyerang desa Kimandano, saling serang ini pun terjadi saling
bergantian sampai akhirnya datang mbah Morjo ke desa ini, mbah Morjo itu kan
sebenarnya berasal dari sini tapi merantau ke pulau Jawa yang datang merene
kerno dengar cerita iki. Peperangan pun berakhir batas itu aja. Tapi para
pemuda antar desa masih menyimpan dendam sampai sekarang ini ”. “Jadi karena
kekayaan alam yang hilang ya mbah ?, wah ini cocok sekali untuk diangkat
menjadi judul dari tugas saya ini mbah, mbah bantuin saya ya mbah ”. “Iya
anakku”.
Dimulai dari sini aku
termotivasi untuk bisa membantu membereskan dan memecahkan masalah ini. Aku
sering sekali memikirkan bagaimana bisa kekayaan alam dari suatu desa bisa
berpindah dengan begitu saja, sedangkan desa yang ditinggal hancur lebur.
Setelah aku teliti dari fisik desa itu semuanya tumbuh dengan seimbang tanpa
ada yang janggal. Ini yang membuat aku bertambah penasaran. Benar-benar ini
anugerah Tuhan yang maha Esa yang sangat luar biasa yang jarang di temui di
daerah lain. Karena dari data yang aku dapat dari warga desa Derep yang desanya
berada di sebelah timur desa Kimandano, ternyata desa Derep juga pernah
merasakan kehilangan kekayaan alam yang begitu dibanggakan juga. Mereka
mempunyai kekayaan alam selama 2th, 2th untuk kegersangan
dan kembali seperti semula lagi. Menurutku hal ini kan di rasakan pula dengan
desa Kimandano, tetapi aku berani untuk menyimpulkan dengan pasti. Sesampainya
di rumah aku langsung bertanya dengan mbah Gito’ ”sudah berapa lama mbah
kegersangan ini terjadi ?”. “kegersangan ini terjadi udah sekitar 2th
kurang 1th bulan, nanti tepatnya 2th di bulan april esok”.
Rasa yakinku pun terus bertambah, begitu pula dengan rasa penasaran ku yang
membuat diri ku harus terus bertahan menunggu 1 bulan lagi. Tetapi jika tidak
pupuslah sudah harapanku.
Sebulan telah berlalu
berarti sudah saatnya desa ini kembali normal. Tepat jam 00.00 WIB
“Subhanallah, Allahuakbar,” kejadian yang tak sangka aku dapat melihatnya,
sebuah keajaiban bagai di dunia mimpi. Malam itu aku tercengang akan perubahan
yang terjadi di desa Kimandano karena semua yang dulunya hilang kini telah
kembali lagi seperti semula tetapi tidak seindah biasanya, pohon rindang tumbuh
dan air pun bergemercik dan bening. Aku tak tahu mengapa bisa begini. Sebuah
keajaiban yang luar biasa. Aku terus saja memandangi keajaiban itu sampai bulu
mataku teranyam dengan sendirinya di bawah pohon yang baru tumbuh malam itu.
Paginya, terdengar suara
sorai-sorai di sekelilingku. Ternyata para warga desa Kimandano yang sedang
bergembira berkumpul bersama merayakan syukuran atas kembalinya kekayaan alam
mereka. Sedangkan warga desa Wegan Olak kembali bersedih karena kekayaan alam
yang mereka miliki telah lenyap seperti desa Kimandano dulunya. Aku pun hanya
bisa berbicara sedikit kepada mereka “Kalian harus bersabar, karena hama dan
semua kerusakan ini akan berakhir 2th yang akan datang. Jadi kalian
semua harus bersabar karena ini mungkin cobaan yang Tuhan berikan kepada setiap
desa secara bergiliran”. Warga desa Wegan Olak pun mengakui kesalahan mereka
yang telah menyombongkan diri atas kekayaan alam yang dulunya mereka miliki
tapi kini tidak mereka miliki lagi. Mereka pun sadar bahwa semua yang mereka
miliki itu bukan sepenuhnya milik mereka tetapi milik yang Maha Kuasa, yang
sewaktu-waktu dapat diambil. Akhirnya kedua desa ini pun akrab kembali tanpa
ada rasa dendam lagi.
Siangnya aku pamit dengan
semua warga desa, terutama mbah Gito’ “mbah Bio pamit mbah, maafin Bio ya mbah
kalau Bio ada salah dengan mbah”. “Iya nak, ra opo, sering maen ke sini neh
yo”. Kami pun berpelukan melepas kerinduan yang akan aku dan mbah rasakan. Saat
mohon pamit dengan mbah Morjo “Nak, kamu beruntung bisa melihat keajaiban itu
di sini. Mbah juga dulu itu seperti kamu, tetapi karena mbah belum mengerti
akan ilmu pengetahuan jadi mbah hanya memandang keajaiban itu sebelah mata
saja, tapi sebenarnya mbah masih penasaran dengan itu semua mengapa bisa
terjadi”.
Semenjak itu setiap 2th sekali desa
Kimandano, desa Wegan Olak dan beberapa desa di daerah itu selalu ramai
dikunjungi warga dari luar daerah maupun dari daerah itu sendiri karena mereka
penasaran akan apa yang pernah saya lihat 2th silam.
Skripsi pun selesai,
aku membahas tentang kejadian alam yang
begitu aneh untuk dipikirkan dengan rasional. Aku pun lulus universitas dengan
mendapatkan nilai yang sangat memuaskan seperti yang aku harapkan.
Saat dalam perjalanan
pulang. Tiba-tiba saat menyebrang di
zebra putih. Klakson mobil berbunyi sangat kencang “Tetttt…tettt…tettt…..”
Aku tertawa sendiri karena
ternyata itu adalah suara alarmku yang sudah aku setel tadi malam tepat pukul
07.00 WIB . Dan semua kejadian yang telah aku alami itu semuanya hanyalah
sebuah bunga tidur, tetapi aku berharap penelitian kali ini sama seperti
mimpiku yang aku alami tadi malam, untuk dapat melihat keajaiban yang sangat
langka di temukan.
Sekarang waktunya aku
bergegas menuju desa yang akan menjadi lokasi penelitianku. Dan semoga saja itu
semua menjadi kenyataan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar